Pemeliharaan dan Pembesaran Bibit Ikan Patin
Proses
membesarkan benih ikan patin bisa dilakukan diberbagai variasi tempat
yang berbeda, yaitu : di kolam biasa, kolam jala apung, sitim pen dan
kolam keramba.
Kegiatan pembesaran dan pemeliharaan ikan patin meliputi :
1) Kualitas air dan kolam ikan patin
Kualitas
air ikan patin yang kurang baik bisa mengakibatkan ikan gampang diserang
penyakit, penyeleksian kualitas air meliputi 2 sifat yaitu sifat air
secara fisika dan sifat air secara kimiawi.
Sifat air
secara fisika terdiri dari faktor suhu, kekeruhan air, dan warna air.
Sedangkan sifat air secara kimiawi terdiri dari faktor besarnya kecilnya
kandungan oksigen (O2), kandungan karbondioksida (CO2), nilai pH serta
zat-zat atau limbah beracun. Ikan patin dikategorikan golongan ikan yang
sanggup bertahan hidup jika terjadi kekurangan kandungan oksigen dalam
kolam atau air. Kriteria air yang bagus yang diperlukan dalam cara budidaya ikan patin
setidaknya mengandung oksigen sebesar 4 milligram/liter air. Sedangkan
besarnya kandungan karbondioksida harus kurang dari 5 milligram/liter
air.
Kedalaman air mempengaruhi kualitas air dan jumlah plankton.
a) Kedalaman air 1 – 25 centimeter à air keruh, banyaknya partikel tanah.
b) Kedalaman air 25 – 50 centimeter àoptimal, plankton cukup.
c) Kedalaman air 50 centimeter à air jernih, plankton sedikit.
Untuk
merangsang dan meningkatkan produktifitas makanan alami
sebanyak-banyaknya maka kolam pembesaran perlu dikasih pupuk. Pupuk bisa
berupa jenis pupuk kandang atau jenis pupuk hijau dengan besaran dosis
50 sampai dengan 700 gram per meter persegi.
2) Pemberian Pakan Ikan Patin
Pemberian
pakan ikan patin dapat dilakukan pada pagi hari dan sore hari (2x
sehari), banyaknya pakan yang diberikan untuk patin dalam satu hari
sebanyak 3% sampai dengan 5% dari berat tubuh ikan patin yang sedang
diperlihara tsb. Kuantitas atau jumlah pakan yang diberikan mengalami
perubahan setiap bulan. Untuk mendapatkan gambaran pertumbuhan ikan tsb,
ambilah 5 ekor sampai dengan 10 ekor ikan patin sebagai sampel kemudian
ditimbang.
Ikan Patin
termasuk ke dalam jenis ikan pemakan segala (omnivore), ikan ini
mempunyai sifat dan kebiasaan menyantap pakan di dasar air (kolam).
Sebelum mempunyai kebiasaan sebagai omnivora, ketika pada masa ikan
berupa larva ikan patin cenderung mempunyai kebiasaan sebagai ikan
pemakan daging (carnivora). Pada masa larva, ikan patin cenderung
memangsa ikan patin lain (kanibalisme) oleh sebab itu ketika masa ikan
masih berupa larva, tidak boleh terjadi keterlambatan dalam pemberian
pakan.
Untuk
sumber pakan tambahan dapat diberikan pellet, ikan-ikan kecil, serta
sisa-sisa bahan makanan di dapur. Pakan tambahan dapat diberikan setiap 3
hari sampai dengan 4 hari sekali, hal ini bertujuan untuk merangsang
nafsu makan ikan.
Untuk
memaksimalkan hasil budidaya agar mendapatkan jumlah ikan yang banyak
pada masa panen ikan patin tiba maka perlu diperhatikan juga adanya
faktor lain yang bisa mempengaruhi seperti gangguan dari hama dan serangan penyakit.
Masa Panen Dalam Budidaya Ikan Patin
Metode
penangkapan pada masa panen ikan patin dengan memakai sistim jala apung
sering menyebabkan ikan menjadi luka-luka. Sebaiknya memulai pekerjaan
penankapan ikan terlebih dahulu dilakukan di daerah hilir kemudian
secara perlahan maju ke daerah hulu. Jika anda menggunakan kere
doronglah kawanan ikan patin sehingga mereka terpojok di daerah hulu,
metode penangkapan seperti ini lebih baik dan menguntungkan sebab
kawanan ikan patin tetap memperoleh air segar untuk menghindari kematian
pada ikan.
Ikan patin yang dibudidayakan
di dalam hampang dalam kurun waktu 6 bulanan sudah bisa dipanen, benih
yang mempunyai berat 8 sampai dengan 12 gram/ekor ketika pada awal waktu
ditebarkan di kolam, beratnya akan mencapai kira-kira 600 sampai dengan
700 gram/ekor ketika menginjak umur 6 bulan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar